Setiap kali Piala Dunia digelar, begitu juga tikar di Pos Ronda Bajigur, RT 09/RW 03. Para peronda yang biasanya segan datang dan lebih suka mengeloni anak-istri mendadak rajin meronda setiap malam. Mereka yang kebetulan tak kena giliran ronda pun rela begadang di pos demi sebuah reriungan yang hanya terjadi setiap empat tahun sekali. Apalagi kali ini Pak RT bersedia meminjamkan sebuah pesawat televisi ukuran 29 inci selama sebulan pol. “Buat teman ronda,” katanya.
Begitulah. Pos Ronda Bajigur yang biasanya ditikam sepisau sepi itu pun mendadak berubah jadi seperti pasar kaget begitu peluit pertandingan disemprit wasit. Televisi ada. Peronda berjubel. Suguhan mengalir tanpa henti. Ada singkong dan kacang rebus bikinan Yu Jum. Ada wedang ronde dan tape bakar kiriman Bude Tien. Kurang apa lagi?
“Sampean menjagokan siapa, Lik?” tiba-tiba Bang Esbeye bertanya kepada Lik Kemlinti.
“Siapa lagi kalau bukan Brasil.”
“Saya pegang Jerman.”
“Saya Inggris.”
“Italia, dong.”
“Argentina, Bang.”
Para peronda sahut-menyahut menyebutkan negara idola masing-masing. Tentu saja tak ada satu pun yang menyebut Indonesia sebagai kesebelasan jagoannya. “Nanti, kalau ada gajah bertelur, baru kita pilih Indonesia,” Mbah Marijo, juru kunci pos ronda, tiba-tiba menyela tanpa ditanya.
“Kok sinis, Mbah?” tanya Bang Esbeye.
“Bukan sinis, Bang. Ini kenyataan. PSSI itu rasanya mustahil ikut bertanding di Piala Dunia. Selain kelas pemain kita itu jauh di bawah para pemain dunia, mereka lebih suka bermain sendiri-sendiri.”
“Kenapa begitu, Bang?”
“La iya. PSSI itu kan cermin masyarakat kita, sulit kompak kalau disuruh bergabung dalam sebuah tim dan bekerja sama. Jangankan dalam sepak bola, dalam urusan sehari-hari saja kita susah akur. Coba sampean lihat bagaimana kita memutuskan nasib mantan juragan besar yang sakit permanen itu. Ndak beres-beres, kan? Belum lagi dalam soal membuat aturan memamerkan pusar dan goyang pinggul yang bikin kisruh itu.”
“Itu kan karena rambut kita boleh sama tapi isi kepala berbeda-beda. Pluralisme, Mbah. Plural. Tidak seragam,” Bang Esbeye menyanggah.
“Justru itu soalnya. Katanya, kita punya slogan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya kurang-lebih biarpun berbeda-beda tapi satu juga. Ternyata kita ini cuma bisa berbeda tanpa pernah bersatu. Yang ada bercerai melulu,” jawab Mbah Marijo.
Bang Esbeye dan Lik Kemlinti cuma melongo mendengar penjelasan Mbah Marijo yang sudah mirip para pengamat politik itu.
“Ada lagi, Lik. Orang kita itu, selain sulit akur, kalau berbeda pendapat sering ndak pakai otak. Maunya pakai otot. Maunya menang sendiri. Serbu sana, gempur sini. Itu tuh, seperti forum ini dan front itu. Kalau sampean ndak setuju pendapat kelompok semacam itu, jangan harap rumah sampean masih utuh besok,” kata Mbah Marijo sambil melinting rokok kelobotnya.
“Memangnya rumah saya kenapa, Mbah?” tanya Kang Bolot, yang tiba-tiba ikut nimbrung.
“Bukan rumah sampean, Kang Bolot. Saya cuma memberi contoh bahwa orang kita sering tak bisa berbeda pendapat dengan baik dan benar seperti yang diajarkan para empu bahasa di Pusat Bahasa itu. Perbedaan justru memicu tindakan anarkistis. Merusak. Kalau yang beginian dibawa-bawa ke lapangan bola, kan repot. Jadi lebih baik kita menjagokan kesebelasan negara lain.”
“Setuju, Mbah. Karena itu, saya mau taruhan buat Indonesia sajalah,” kata Kang Bolot.
“Wah, dasar bolot,” teriak Mbah Marijo, Lik Kemlinti, dan Bang Esbeye berbarengan.