Soeharto Sudah Bisa Tersenyum dan Makan
Langit cerah. Bulan penuh. Para peronda asyik mendengarkan Mang Gudel memainkan ukulele. Suaranya merdu. Malam itu, Mang Gudel menyanyikan sebuah lagu keroncong lawas. Yang lain ikut manggut-manggut.
“Di bawah sinar bulan purnama …. “
“Wah, kalau Mang Gudel sudah unjuk suara, hati jadi tenteram ya. Mat-matan tenan ….”
“Mat-matan sih mat-matan, Lik Basiyo. Tapi hati saya kok tetep miris ya?”
“Miris kenapa Mas Wartawan?”
“Lah gimana ndak miris. Tiap hari baca koran kok beritanya ndak ada yang bikin hati senang. Apalagi berita tentang Pak Pesiden yang lagi gering di puskesmas itu lo.”
“Ngapain sampeyan pusing, Mas? Yang lagi sakit ya biarin sakit saja. Sampeyan ndak usah ikut mikir. Sudah ada yang ngurus kan?”
“Memang Lik. Tapi saya itu heran ya. Pak Pesinden itu kok ya sakitnya aneh gitu. Masa ada orang sakit tergantung sama rakyat. Kalau rakyatnya anteng, dia sembuh. Begitu rakyatnya mau ngamuk, eh mantri-mantrinya buru-buru bilang bahwa Pak Pesinden kritis. Itu kan menjengkelkan.”
“Mungkin saja kesehatan Pak Pesinden memang begitu. Memang naik dan turun. Namanya juga sudah sepuh to Mas.”
“Mang Gudel ini kok pura-pura ndak tahu lo. Kemarin saya ketemu seorang kawan. Kawan saya ini bercerita baru saja bertemu seorang mantri yang merawat Pak Pesinden itu. Kawan saya itu bilang, mantri yang merawat Pak Pesinden itu sekarang sugih. Kaya raya. “
“Biasa to, Mas Wartawan. Jadi mantri itu memang gampang sugih. Apalagi mantri yang merawat Pak Pesiden. Lah wong mantri lain saja bayarannya gede je.”
“Bukan begitu Mang Gudel. Mantri yang ini lain. Sekali ngomong, cuma ngomong lo, bukan nyuntik atau ngasih obat, bayarannya berjuta-juta. Padahal mantri itu dibayar untuk merawat bukan untuk mengobati.”
“Maksud sampeyan bagaimana?”
“Kata temen saya itu, mantrinya Pak Pesinden itu tugasnya memang ngomong. Memberi tahu warga setiap hari tentang kondisi Pak Pesiden. Dan omongannya itu bisa disetel. Misalnya kalau hari ini koran-koran memberitakan rakyat Solo ngamuk dan menyegel rumah Pak Pesinden, mantrinya pasti akan langsung bilang bahwa kondisi Pak Pesinden gawat. Begitu koran-koran bikin berita yang adem ayem, eh mantrinya bilang Pak Pesinden sudah membaik, meskipun tetap kritis. Mana bisa disebut membaik tapi tetap kritis. Membaik ya membaik. Kritis ya kritis. Itu dua hal yang berbeda, Mang. Ini pasti …. “
“Sik…sik…Mas. Memangnya sampeyan tau masalah kedokteran? Barangkali memang menurut para mantri kondisinya memang seperti itu. Naik-turun tapi tetap kritis.”
“Saya kok malah curiga, Mang. Jangan-jangan Pak Pesinden itu sehat wal afiat, tak kurang suatu apa pun. Tapi keluarganya sengaja menyembunyikan dia di puskemas biar aman. Biar orang ndak tahu seperti apa kondisinya sebetulnya. Selama ini kan ndak ada orang yang boleh bertemu Pak Pesinden. Alasannya biar ndak ganggu. Yang menjenguk pun cuma ditemui di luar kamar. Dengan begitu, keluarganya bisa mengatur para mantri agar ngomong sesuai situasi di koran-koran. Setiap kali ngomong, mantri-mantri itu dapat imbalan jutaan rupian. Begitu seterusnya…”
Para peronda terdiam mendengarkan penjelasan Mas Wartawan. Ndlongop tak tahu mesti omong apa. Hanya Mang Gudel yang segera bereaksi . Ia mengambil ukelelenya, lalu bernyanyi.
“Yen ing tawang ono lintang, cah ayu …. “