GORO-GOROJune 19, 2006 6:45 pm

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Gara-gara terlalu hot menonton pertandingan Prancis lawan Korea Selatan, Lik Basiyo tanpa sengaja menendang gelas kupi. Gelas yang masih penuh itu kok ya kebetulan jatuh menimpa TV. Keruan saja, TV langsung mati. Korsleting. Para peronda tentu saja misuh-misuh ndak ketuluangan.

“Wah, ciloko tenan. Apes. Lagi seru-serunya je, lah kok modar.”

“Nuwun sewu, Mas. Nuwun sewu, Pakde. Saya minta maaf ndak sengaja ini tadi.”

“Lah terus bagaimana ini? Ayo kita bubar saja. Pulang ke rumah. Mumpung pertandingannya masih lama, babak pertama belum habis.”

“Ayo….ayo….ayo. Bubaaar …. “

Begitulah. Para langsung ngacir. Dalam sekejap pos ronda pun mendadak sepi pol. Tak ada satu pun peronda yang kelihatan bulu matanya. Semua pulang ke rumah masing-masing. Mereka janjian baru datang lagi ke pos kalau TV-nya sudah diservis.

Masalahnya, siapa yang mau mereparasi dan kapan? Terus kalau tak ada yang mau berangkat menyerpis TV, lalu kapan para peronda mau datang lagi? Piala Dunia masih lama je ….

GORO-GOROJune 2, 2006 2:07 pm

Lik Basiyo selalu punya cara untuk menghibur para peronda yang mulai diserang rasa kantuk. Kali ini dia mengajak Kang Juprit, Engkoh Acing, dan Mas Wartawan main tebak-tebakan.

“Merah, kuning, hijau, coklat muda dan coklat tua jadi satu, apa itu?”

“Pelangi, Lik.”

“Salah. Yang bener Bob Marley masuk pramuka. Gimana caranya supaya telor berubah jadi nanas?”

“Disulap, Lik.”

“Salah lagi, Mas. Yang bener, telornya direbus. Ketika masih panas langsung sampeyan berikan ke anak kecil. Pasti dia bilang, ‘Nanas, nanas, nanas…..’. Nah, terus sate apa yang dari Jepang?

“Ya …. sate Jepang, Lik”

“Bukan, sateria baja hitam. Bandara mana yang disukai playboy?

“Embuh.”

“Juanda, apalagi juanda kembang.”

“Sekarang gantian aku ah. Hayo, sapu apa yang selalu menempel, Lik?”

“Sapu jagat, Mas.”

“Wah, salah. Yang benar itu ya sapu yang tak bisa lepas … itu lo, lagunya Reza. Ini satu lagi, belut apa yang paling berbahaya?”

“Ah, saya tahu itu … belutang banyak ental bangklut. Iya kan?”

“Wah, Engkoh Acing pinter. Nah, kalau hantu apa yang paling pinter ngitung itu apa, Koh?”

“Apa ya?”

“Ya… han, tu, tri, four, five, ….”

“Saya juga bisa kalau ngawur begitu, Mas. Hayo, pocong apa yang disukai ibu-ibu?”

“Hantu belawung, Koh.”

“Bukan. Pocong yang disukai ibu-ibu itu ya pocongan harga. Satu lagi ya. Siapa artis Indonesia yang suka sekali jajan?”

“Mayangsari atau Dewi Sandra, Koh.”

“Ngawur. Artis yang suka jajan itu Tamara Bli-chiky.”

“Hwasyu ….. “

GORO-GOROMay 31, 2006 12:39 am

Lik Basiyo, si raja humor dari Pos Ronda Bajigur, hendak mengumbar lelucon lagi. Para peronda pun dengan takzim siap-siap mendengarkan cerita lucu van Lik Basiyo dengan melemaskan otot-otot mulut dan syaraf kejenakaan mereka.

“Mau cerita apa lagi, Lik?”

“Sampeyan pernah dengar lelucon pengantin Purwokerto belum?”

“Belum, Lik. Belum. Yang gimana itu?”

“Begini. Alkisah ada seorang pemuda miskin dari Purwokerto, Jawa Tengah. Namanya Yogi Prasetyo. Dia berasal dari sebuah keluarga sederhana. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit. Tapi, karena kegigihannya, dengan biaya pas-pasan, Yogi berhasil kuliah di Fakultas Ekonomi Nggadjah Mada.”

Lik Basiyo berhenti sebentar untuk menyeruput wedang ronde kiriman Yu Ginuk.

“Nah, di kampus itu, Yogi jatuh hati pada seorang gadis bernama Ayu Wulaningrum. Perempuan manis ini putri tunggal seorang petinggi di Yogyakarta dan masih keturunan Keraton. Darahnya biru. Walaupun secara ekonomi mereka jauh berbeda, mereka tetapi bisa saling mencintai, bahkan berlanjut pacaran.

“Bapaknya apa ya ndak melarang mereka pacaran?”

“Semula ya ndak setuju, Kang. Tapi toh dia ndak mampu mencegah gelora cinta putri tunggalnya. Pancen dasarnya anak zaman sekarang, Kang. Susah dilarang.”

“Lalu bagaimana, Lik?”

“Singkat cerita, setelah mereka lulus kuliah, orang tuanya pun menikahkan Yogi dan Ayu. Wah, pesta gede-gedean. Ayah Yogi yang tak punya banyak harta hanya bisa menyumbang pakaian, sprei, sarung bantal, buatan sendiri. Hand made gitu. Namanya juga penjahit.”

“Yang penting itu perhatian pada anak, Lik.”

“Iyo. Nah, ketika malam pengantin tiba, Yogi dan Ayu pun masuk kamar untuk melakukan adegan selanjutnya. Sampeyan ngerti maksud saya kan? Eh, siapa sangka. Begitu Yogi membuka pakaian dan tinggal memakai celana kolor, Ayu malah berteriak kaget, histeris, lalu pingsan.”

“Loh, kenapa, Lik?”

“Selidik punya selidik, ternyata Yogi lupa kalau celana kolor jahitan ayahnya itu terbuat dari kain bekas kantong tepung terigu. Dan di tengah celana kolor itu masih terpampang dengan jelas tulisan: BERAT BERSIH 25 KILOGRAM. Pantes Ayu langsung pingsan begitu melihatnya. Soalnya, Ayu tidak bisa membayang kan berapa besar ‘isi’ celana dengan berat 25 kilogram itu ….”

“Hahaha….. Lik Basiyo bisa aja …. “